Gorontalo, Kamis (04/12/2025) – Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama, Dr. Ahmad Ali MD, MA, memberikan tausyiah kepada jamaah di Masjid An-Nasrulloh, Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Dalam tausyiahnya, Dr. Ahmad Ali MD menekankan bahwa menjadi bagian dari Nahdliyin tidak hanya berkutat pada ranah akademik semata, namun dakwah harus tetap menjadi prioritas utama dalam kehidupan umat Islam. “Ilmu dan dakwah harus berjalan beriringan agar memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Di awal penyampaian, Dr. Ahmad Ali memaparkan biodata singkat tentang daerah asal, perjalanan pendidikan, hingga pengalamannya berkeliling dari provinsi ke provinsi, dari Sabang sampai Merauke, dalam rangka penelitian mengenai keberadaan warga LDII. Hingga kini, penelitian tersebut telah mencakup 32 provinsi di Indonesia, termasuk Gorontalo. Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena LDII benar-benar hadir dan aktif di seluruh wilayah yang ia teliti.
Sebagai dosen pascasarjana di Universitas PTIQ Jakarta, Dr. Ahmad Ali MD juga menyampaikan bahwa inspirasi terbesarnya lahir dari silaturahim dengan warga LDII di berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Menurutnya, silaturahim tersebut menjadi hikmah besar dalam perjalanan akademik dan spiritualnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut memaparkan hasil penelitian yang telah dirangkum dalam buku pertamanya tentang nilai-nilai kebajikan dalam jamaah LDII. Ia menemukan sedikitnya 11 nilai kebaikan, mulai dari amal saleh, kemandirian, hingga pola komunikasi khas warga LDII. Salah satu yang unik adalah penggunaan kode angka “354” yang sering dijumpai pada usaha warga LDII seperti warung makan barokah 354 atau tempat cuci steam motor 354.
Dr. Ahmad Ali MD juga menyinggung stigma negatif tentang LDII yang telah berkembang puluhan tahun, salah satunya anggapan bahwa masjid LDII dipel ketika digunakan oleh orang di luar LDII. Berdasarkan penelitiannya, ia menegaskan bahwa praktik pembersihan masjid bukan karena menganggap orang lain tidak bersih, melainkan karena tuntutan syariat bahwa tempat ibadah harus selalu dalam keadaan suci, sebagaimana syarat sahnya ibadah meliputi kesucian badan, pakaian, dan tempat. Adapun kebersihan masjid sendiri telah dijadwalkan secara rutin.
Lebih lanjut, ia menguraikan salah satu nilai kebajikan penting dalam LDII, yaitu ikram muddhoif atau memuliakan tamu. Hampir di setiap masjid dan pondok LDII tersedia wisma tamu sebagai wujud pelayanan terhadap tamu. Dalam praktiknya dikenal dengan konsep gupuh, lungguh, suguh, yakni sikap hangat menyambut tamu, mempersilakan duduk, serta menyajikan hidangan sebagai bentuk penghormatan.
Kegiatan tausyiah ini mendapat sambutan positif dari jamaah dan diharapkan mampu mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat semangat dakwah di tengah masyarakat Gorontalo. mr. jamali
